SHARING MEMBURU BEASISWA ADS BUAT PNS PEMDA


Ide menuangkan tulisan ini muncul setelah saya kembali ke daerah asal dan mulai aktif bekerja kembali. Ternyata lumayan banyak juga rekan-rekan Pemda yang menanyakan mengenai seluk beluk cara mendapatkan beasiswa ADS, senang juga sih karena menambah teman dan kenalan. Kemudian terpikir kenapa nggak dituangkan saja dalam tulisan agar lebih banyak rekan-rekan Pemda yang bisa membaca dan mendapatkan sedikit informasi tambahan tentang beasiswa ADS.
Buat para PNS di daerah mungkin memang kesempatan dan informasi yang ada untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri lebih minim dibandingkan para PNS pusat. Beberapa kendala yang mungkin dihadapi bisa jadi berupa masalah aksesibilitas, kemampuan Bahasa Inggris, dukungan dari pimpinan dan keluarga.

Aksesibilitas
Selama ini beasiswa yang populer di kalangan rekan-rekan Pemda mungkin adalah beasiswa BAPPENAS, yang memang salah satu penawarannya adalah beasiswa double degree atau beasiswa ke luar negeri. Jika kita menginginkan beasiswa ke luar negeri dengan pilihan lebih banyak memang kita harus rajin membuka website dan mencari informasi sebanyak-banyaknya termasuk informasi mengenai beasiswa ADS.

Saya termasuk cukup beruntung karena saya berhasil mendapatkan beasiswa BAPPENAS dengan pilihan ke luar negeri sehingga saya mendapatkan cukup banyak informasi beasiswa luar negeri tersebut melalui BAPPENAS. Memang bukan jaminan bahwa dengan melalui BAPPENAS ini kita pasti akan mendapatkan beasiswa luar negeri, tetapi setidaknya BAPPENAS menyediakan informasi dan English for Academic Purpose sebagai bekal kita untuk mendaftar scholarship semacam ADS, DAAD dan sebagainya.
Beruntunglah untuk saat ini, pilihan bagi PNS Pemda tidak lagi hanya melalui BAPPENAS lho… karena sekarang DEPDAGRI juga sudah menyediakan informasi scholarship yang bisa diakses melalui website AKLN DEPDAGRI (http://akln.setjen.depdagri.go.id/new/) disamping DEPDAGRI sendiri sekarang juga sudah menjadi salah satu Key Agency untuk ADS.

Bahasa Inggris
Inilah ganjalan yang paling sering ditanyakan oleh rekan-rekan Pemda kepada saya. Karena pada waktu itu saya sudah berniat untuk mencari beasiswa full termasuk persyaratan Bahasa Inggrisnya, maka saya menempuh jalur melalui EAP BAPPENAS (http://www.pusbindiklatren.bappenas.go.id/). Kerugiannya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri tersebut (saya mendaftar beasiswa BAPPENAS 2008, apply ADS 2009, EAP 2010 dan berangkat ke Australia awal 2011). Tapi kalau dipikir-pikir ada banyak keuntungannya juga lho… disamping tidak perlu keluar biaya untuk persiapan Bahasa Inggris, saya jadi terlatih untuk menghadapi seleksi beasiswa dan mendapatkan tips serta contoh-contoh pengisian formulir beasiswa dari rekan rekan sesama EAPers BAPPENAS.
Untuk yang menginginkan cara yang lebih singkat bisa dengan mencari informasi lembaga Bahasa Inggris di daerah masing-masing yang menyediakan tes TOEFL/ IELTS sekaligus preparation-nya. Jika memang belum ada, terpaksa kita mencari tempat tes yang terdekat dari daerah kita, dan untuk persiapannya bisa kita perdalam dengan mencari tes TOEFL/ IELTS online, ada yang gratis dan ada yang bayar sih… saya belajarnya juga dari tes online yang gratisan kok

Dukungan dari Pimpinan dan Keluarga
Ini juga merupakan hal yang sangat kita butuhkan untuk keberhasilan mendapatkan scholarship impian kita. Beberapa teman saya ada yang akhirnya urung melanjutkan langkah mereka karena tidak mendapatkan ijin pimpinan. Saya sendiri pada awal-awal pendaftaran tidak menemukan banyak kesulitan walaupun pimpinan juga tidak memberikan support yang memadai, dalam artian beliau tidak memberikan arahan untuk isian formulir pendaftaran beasiswa tersebut. Tetapi mungkin itu justru merupakan keuntungan bagi saya juga karena saya bisa menyesuaikan tugas pokok saya dengan jurusan yang hendak saya ambil. Menurut saya hal tersebut sangat penting karena berdasarkan info-info yang saya dapatkan, pengisian tugas pokok, jurusan yang diambil dan pekerjaan sekembalinya ke tempat kerja pasca beasiswa cukup menentukan keberhasilan kita dalam mendapatkan scholarship ADS. Kalo mau jujur sih sebenarnya tugas pokok saya nggak nyambung-nyambung amat dengan jurusan yang saya ambil. Tugas pokok saya sebagai analis di laboratorium Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang tentu lumayan nggak nyambung dengan jurusan climate change yang hendak saya ambil, walaupun instansi saya memang bergerak di bidang lingkungan hidup. Karena itulah ketika mengisi formulir, saya tuliskan tugas saya sebagai tenaga teknis untuk memberikan masukan dan saran teknis atas hasil analisa laboratorium terhadap kajian dampak lingkungan dan tentu saja perubahan iklim akan mempengaruhi pengambilan keputusan atas kajian dampak lingkungan.

Sedikit hambatan baru mulai terasa sewaktu saya mengurus dokumen dari kantor untuk keperluan pengurusan paspor dinas. Mula-mula pimpinan yang memberikan statement negatif karena sebagai seorang istri dan ibu, saya lebih mengutamakan studi dan meninggalkan keluarga. Hal itu justru menjadi penyemangat bagi saya untuk menunjukkan kepada beliau bahwa jalan yang saya tempuh adalah yang terbaik bagi saya dan keluarga. Hambatan kedua datang dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) ketika saya membutuhkan pengantar untuk pengurusan paspor. Berkas-berkas saya hanya menumpuk selama 2 minggu tanpa ada penanganan dari BKD, walaupun saya sudah menyertakan peraturan-peraturan Kemendagri tentang pengurusan paspor dinas. Akhirnya saya pun memutuskan untuk menghubungi AKLN DEPDAGRI dan BKD Provinsi untuk mencari contoh surat pengantar dan kelengkapan lainnya untuk pengurusan paspor tersebut. Tetapi lagi-lagi saya masih harus menebalkan muka karena harus menerima kemarahan dari salah seorang pimpinan di BKD Semarang karena saya selalu menanyakan tentang perkembangan surat pengantar dari Pemkot Semarang tersebut. Tetapi mungkin ini hanya terjadi pada kasus saya saja, karena teman saya di PemProv Sumatera Selatan ternyata mudah dalam pengurusan dokumen tersebut. Jadi yang terpenting adalah kita harus bisa menyesuaikan diri dengan sistem di instansi tempat kita bekerja. Untunglah walaupun pengurusan di Pemkot saya agak lambat, pegawai-pegawai di BKD Provinsi dan AKLN DEPDAGRI sangat kooperatif dan benar-benar membantu sehingga saya masih dapat mengejar deadline pengumpulan paspor ADS.

Dari pihak keluarga sebenarnya tidak ada halangan untuk saya meneruskan studi ke Australia, hanya saja saya sangat menginginkan kedua anak saya untuk turut bersekolah disana. Hal tersebut yang menjadi permasalahan antara saya dan suami serta mertua, dikarenakan mereka kurang mendukung keinginan saya tersebut. Saya pun mencari informasi tentang biaya hidup, keuntungan dan kerugian sebagai single mother di Australia dan segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan membawa serta anak ke Australia. Akhirnya saya putuskan untuk mencari beasiswa selama 1,5 tahun saja karena suami tidak berkeinginan untuk mengambil cuti di luar tanggungan negara.

Selama 5 bulan pertama saya hidup sebagai seorang single di Australia agar dapat menyisihkan uang beasiswa untuk tambahan biaya hidup ketika anak-anak menyusul kelak. Disamping itu saya jadi mempunyai tenggang waktu untuk mencari informasi mengenai akomodasi yang bisa sharing dengan teman, terjangkau dan mudah transportasinya ke kampus. Ketika akhirnya anak-anak menyusul, suami mengambil cuti karena alasan penting selama 2 bulan untuk mengantar dan menemani anak-anak sementara. Setelah itu tugas menjaga anak digantikan oleh ibu selama 3 bulan. Setelah itu saya menjaga sendiri anak-anak selama 3 bulan sebelum kemudian ibu datang lagi ke Australia selama 2 bulan. Menjelang akhir masa studi giliran suami yang mengambil cuti besar selama 3 bulan untuk menjaga anak-anak sekaligus membantu packing. Alhamdulillah semuanya lancar dan untuk biaya hidup juga masih mencukupi kok.

Bersama sesama mahasiswa indonesia di ANU

Bersama sesama mahasiswa indonesia di ANU

Nah, buat rekan-rekan Pemda yang berniat mencari beasiswa ke luar negeri, khususnya ADS jangan ragu untuk melangkah deh… Yang terpenting adalah kita mempersiapkan diri sebaik mungkin, memantapkan tekad, mencari informasi sebanyak-banyaknya dan jangan gampang menyerah. Insya Allah sukses menembus seleksi beasiswa akan dapat diraih.

Berikut link tes online yang pernah saya akses:

http://www.examenglish.com/IELTS/index.php?gclid=CP2LyoS1o7UCFUd66wodSkgAWA

http://www.canadavisa.com/ielts/free-practice-tests.html

http://www.ielts-exam.net/index.php?option=com_content&task=section&id=15&Itemid=64

http://takeielts.britishcouncil.org/prepare-test/free-practice-tests

http://www.ielts.studyau.com/