Perjuangan melelahkan studi ke luar negeri, seorang ‘Mama Papua’ (Part 2)


Serius diskusi pelajaran

Inilah lanjutan dari kisah Mama Papua bagian 1

Kami semua yang mengikuti kursus ini adalah anak-anak asli Papua, berasal dari latar belakang profesi yang berbeda-beda: jumlah terbesar didominasi para dosen dari Universitas Cenderawasih di Jayapura dan Universitas Negeri Papua di Manokwari, kemudian tenaga-tenaga professional non-dosen, lalu sarjana-sarjana muda yang baru lulus dari universitas. Tahun saya merupakan angkatan kedua dari program ini, dengan peserta perempuan jauh lebih sedikit dari peserta laki-laki. Setidaknya ada enam orang diantara kami yang sudah berkeluarga sehingga harus meninggalkan anak dan suami/istri jauh di Papua. Pihak Pemda mengontrak beberapa barak rumah yang berdekatan dengan IALF untuk kami tinggal selama mengikuti kursus, sehingga memungkinkan kami hanya jalan kaki pulang pergi antara rumah kontrakan dan pusat kursus. Kami juga dibekali biaya hidup yang kami terima setiap bulan, dengan jumlah yang sama untuk setiap siswa/-i. Enam bulan lamanya kursus ini berlangsung, bersamaan dengan kehamilan anak kedua saya; suatu kehamilan yang sebetulnya tidak direncanakan dengan matang.. :)  Ini merupakan pengalaman pertama menjalani kehamilan di tengah program kursus yang begitu intens dan menguras energi, bahkan pula jauh dari suami dan anak tertua saya yg baru berusia 2 tahun 3 bulan. Kursus berlangsung selama lima hari kerja penuh, dari jam delapan pagi hingga jam tiga sore, ditambah studi mandiri di sore hari di ruang Resource Center-nya IALF. Sebagai ibu hamil, saya biasanya sudah lelah pada kelas siang sehingga memilih pulang untuk tidur dahulu kemudian kalau masih ada tenaga, sorenya saya bisa kembali ke sekolah untuk belajar. Sesekali di akhir pekan, kami merencanakan acara piknik bersama ke Bedugul atau Kintamani, atau acara makan papeda-ikan kuah kuning (makanan khas Papua) hanya untuk hiburan.

Di kelas IALF Bali

Pada bulan Agustus 2009, beberapa diantara kami diijinkan ikut test IELTS. Dua minggu lamanya kami dipersiapkan dengan semua skills yang akan diuji dalam test itu. Saya mulai mendapat gambaran yang jelas, aplikasi ADS yang akan tutup tanggal 4 September tahun itu juga menjadi target saya untuk melamar. Sikapku yang mantap memilih ADS didukung adanya kemungkinan untuk membawa serta keluarga ketika studi di Australia nanti.  Selain itu, informasi yang lengkap mengenai proses aplikasi saya dapatkan juga dari beberapa orang penerima beasiswa ini yang sedang mempersiapkan Bahasa Inggris mereka di sana. Pada saat ini, kondisi kehamilanku  bertambah besar dan menyulitkanku untuk duduk lama di dalam kelas, sejenak menjadi olok-olokan beberapa kawan karena saya harus meminta kepada direktur IALF agar ditempatkan sebuah bangku lipat khusus yang memungkinkan perut buncitku bisa masuk tanpa tekanan yang menimbulkan rasa sakit yang berlebihan… :) Karena adanya target untuk melamar ADS tahun itu dan pertimbangan usiaku yang makin bertambah, hari-hari persiapan test IELTS membuatku sangat tertekan, tensi darahku naik melebihi batas normal, pikiranku dipenuhi ketakutan akan lulus atau tidak. Sebab kalau tidak lulus, berarti saya harus test ulang sebelum bulan September, dan itu berarti ada kesulitan besar yang akan saya hadapi, saya harus mencari biaya sendiri untuk datang test di Denpasar, Jakarta atau Surabaya. Membayar tiket pesawat Papua-Jawa/Bali saja sama dengan bepergian ke luar negeri, seharga tiket sekali jalan Jakarta-Sydney!

Di tengah persiapan yang menegangkan, saya akhirnya jatuh sakit lalu pergi berkonsultasi dengan dokter kandungan langganan saya di kota Denpasar. Sang dokter memberi beberapa obat penenang dan vitamin untuk menjaga kondisi saya hingga test nanti. Syukur, selama persiapan ini tegangan mental yang kami rasakan sedikit terkurangi berkat gaya mengajar sang guru Amerika yang humoris dan memiliki kemampuan hypnotist. Ia rupanya memahami sekali kondisi kami, beberapa kali di kelas dibuatlah kegiatan selingan yang bertujuan menenangkan pikiran kami. Akhirnya, test IELTS itu dilaksanakan juga pada 16 Agustus 2009, berlangsung dua setengah jam lamanya; suatu penderitaan tersendiri bagi seorang ibu hamil tua untuk duduk tanpa beranjak ke kamar mandi sekedar membuang air kecil…  Sejak pagi saya menahan diri tidak meneguk banyak air. Saya pasrah sepenuhnya pada kehendak Tuhan, bahwa ‘jika hasil IELTS ini baik, maka perjalanan selanjutnya akan saya lalui dengan baik pula’.

Bersiap tes IELTS

Usai test sore itu, bebanpun terasa pergi sudah, sekarang waktunya untuk berkemas dan pulang kembali ke Papua bertemu keluarga sambil menanti hasil test dan waktu persalinan. Ketika hendak terbang ke Jayapura (21 Agustus), saya malah mengalami kesulitan lain lagi di airport Ngurah Rai: Garuda tidak ingin mengangkut saya dengan alasan, kondisi kehamilan yang sudah melebihi batas aman untuk terbang. Pada jam satu subuh itu saya terpaksa batal berangkat dengan hati yang amat sedih, kawan-kawan lain jadi terbang, tetapi saya dengan menahan kesedihan sekaligus kerinduan untuk bertemu anak dan suami saya, bersama seorang sepupu kami kembali ke Denpasar untuk menanti pagi dan kami coba mengatur tiket pada penerbangan lainnya. Syukur, akhirnya Lion Air mau menerima dan pada 23 Agustus subuh, saya bisa mendarat dengan selamat di Airport Sentani di Jayapura, walau memang dalam kondisi kedua kaki yang bengkak dan perut yang sakit karena guncangan selama penerbangan. Namun, rasa sakitku seakan hilang diganti semangat yang begitu membara selama perjalanan lantaran siang hari sebelum terbang, saya mampir sejenak di IALF dan kepada saya diperlihatkan hasil test IELTS saya yang mencapai 6.5; suatu hasil yang seketika menghapus kesedihanku dan tumbuh harapan yang menggebu-gebu untuk melamar ADS setelah tiba di Papua.

Lalu, bagaimana lika-liku melamar ADS dan menjalani kuliah di Canberra? Tunggu minggu depan..:)

Teriring salam hangat dari Canberra nan dingin!

Canberra, 29 Juli 2012

Frederika Korain

MAAPD Student on Gender and Development

School of Arts and Sciences, ANU