LAIN LUBUK LAIN IKANNYA, LAIN KANGGURU LAIN GARUDA PART 3


LAIN LUBUK LAIN IKANNYA, LAIN KANGGURU LAIN GARUDA

PART 3

Memberi hak tubuh dan otak merasakan kesegaran pepohonan dan rerumputan hijau

Ini bagian terakhir dari dua tulisan saya dengan judul yang sama sebelumnya. Poin kedua yang menjadi catatan saya terkait academic culture gap antara Australia dan Indonesia adalah membuat time schedule dan  time line sebagai tanggung jawab dan kontrol pribadi. Terpasung rindu pada keluarga dan kehilangan hangatnya suasana rumah membuat saya harus me-push diri lebih keras. Ternyata tekad yang kuat belum cukup jika tak dibarengi dengan time management dan self management yang baik. Ibarat seorang pejuang yang berusaha survive dalam brutalnya medan pertempuran, mesti tahu dengan taktis kapan harus keluar dan memberondongkan pistol, kapan harus bersembunyi membaca situasi lawan dan mengatur strategi untuk kemudian kembali menyerang dengan strategi yang jitu.

Di Canberra dengan suasana yag sangat sepi (sangat useful sebenarnya untuk belajar) tetap saja menggoda untuk keluar sejenak (atau berjenak-jenak) dari kungkungan buku-buku dan laptop. Meriahnya salvos dan semaraknya sunday market adalah tawaran menggoda yang tak kuasa dilewatkan. Sudut-sudut kota yang menggoda untuk dijadikan angle foto-foto (hingga tiap minggu edisi foto profilenya berubah), tawaran liburan kolaboratif beberapa teman adalah kemanisan Canberra yang selalu saja sukses mengeluarkan dari pertapaan.

Gembira dan bahagia ketika pulang dengan sekantong belanjaan, memori card kamera yang nyaris penuh bahkan kehabisan baterai, kemanisan moment tak terlupakan bersama teman, tetapi kok ada rasa bersalah yah pada diri sendiri. Terkadang malah saya memarahi diri sendiri “sudah saatnyakah mengganjar diri dengan kesenangan sementara tanggung jawab pribadi masih saya abaikan”. Chapterku terbengkalai lagi, buku yang sedianya sudah dibaca mesti saya setorkan di box return Mensiz karena sudah di-request orang lain.

Unforgettable Moment with lovely friends.

Beberapa obrolan dengan sesama teman Ph.D di sini membuat saya laksana mendapat enlightment seketika; Bingo! saya dapat jawaban dan sekalian solusinya; buat time line pribadi secara rasional dan kontrolnya sekaligus. Beberapa mahasiswa Ph.D di Australia (mungkin juga di negara-negara lain karena saya tak tahu persis) membuat time schedule dan time line untuk proses penyelesaian tesis mereka setiap satu semester yang didiskusikan bersama supervisor. Time line itulah yang mengawal proses kerja mereka dan karena diobrolin bareng supervisor, maka supervisor bisa menjadi pengontrol pencapaian kerja tersebut. Kontrol tersebut sekaligus juga evaluasi terhadap konsistensi rasional antara kerja dan waktunya.

Cara itu saya coba terapkan dengan membuat time schedule selama sisa-sisa keberadaan saya disini yang kurang dari satu semester lagi (kesadaran saya telat sekali yah, sebab selama satu semester sebelumnya saya terlena dalam tidur manis layaknya sang sleeping beauty hingga akhirnya terbangun bukan karena kecupan romantik seorang pangeran, tetapi kepanikan karena chapter kok ndak rampung-rampung).

Saya tidak cuma membuat time schedule itu secara pribadi, tetapi bicara terus terang pada supervisor bahwa dengan sempitnya sisa waktu saya disini, saya sudah membuat sekian macam rencana tertentu. Sang supervisor dengan mulus mencoret beberapa planing saya yang menurutnya agak mustahil saya capai dan memberi catatan pada planning lainnya. Kesepakatan kecil-kecilan inilah yang membuat saya berjuang mati-matian memenuhinya, hingga mengabaikan ajakan manis teman-teman untuk hang out. Ini menjadi guide bagi diskusi-diskusi dengan supervisor.

Usaha ini saya barengi dengan tekad untuk tidak mengganjar diri sendiri dengan kemanisan apapun sebelum target tiap minggu selesai (habis selama ini saya rasanya terlalu memanjakan diri sich). Hasilnya sungguh ruarrr biasaaa; saya bisa menyelesaikan target, meskipun dengan tertatih-tatih dan meringis mengucap maaf karena menolak ajakan manis teman-teman. Begitu selesai saya bisa dengan lega keluar dari pertapaan, belanja apapun yang selama berhari-hari saya puasakan (tentu saja rasional untuk kantong mahasiswa), tidur  molor sepuasnya dan lebih penting lagi adalah terbebas dari dosa pribadi karena merasa bersalah.

Time management adalah guide, bukan hakim yang memancung waktu pribadi, bukan juga untuk memberi beban kerja yang menyiksa. oleh sebab itu membuatnya harus dengan fleksibel dan berimbang. Ketika membuat time schedule saya mencatat beberapa hal bisa dilakukan; pertama, menyeimbangkan antara pemenuhan target kerja saya dengan break time yang memberi hak adil pada perut, mata, telinga, dan tubuh secara keseluruhan. Dua jam pertama di pagi hari atau menjelang tengah malam untuk saya adalah waktu kerja produktif. Dua jam setelah itu saya tinggalkan laptop, minum teh dan snack ringan sambil menatap keluar jendela atau sambil mendengarkan musik. Jika tidak, menjauh dari ruangan kerja dan melakukan hal ringan lainnya. Oleh sebab saya sudah menatap laptop selama dua jam saya tidak mengizinkan mata saya lelah dengan melongok FB atau email pada waktu break itu. Setelah break dari keletihan menulis itu biasanya ada ide baru yang lebih terang sehingga saya bisa tinjau lagi tulisan saya dengan kepala jernih. Melakukan ibadah sholat atau jalan sejenak di luar adalah hal-hal yang bisa memecahkan kejenuhan menulis atau membaca.

Kedua, konsisten dengan schedule yang sudah dibuat. Ketika bekerja, saya membuka email atau facebook hanya pada malam hari. Membuka FB bagi saya semacam zat adiktif yang membuat saya tak bisa berpaling dari godaan foto teman-teman yang gemas untuk dikomentari atau membaca status yang lucu. Konsistensi juga membuat saya berhasil menolak dengan manis tawaran jalan dari teman-teman (dari pada saya terus didera rasa bersalah?). Ketiga, memberi reward bagi keberhasilan mencapai target dengan cara memanjakan diri; jalan-jalan, belanja, memasak atau makan makanan favorit, berlama-lama mengguyur badan dibawah shower, atau tidur molor sepuasnya (sholat lalu tidur lagi). Hasilnya saya bisa tersenyum puas menyelesaikan target sesuai waktu, bebas dari rasa bersalah, dan badan serta otak tidak terbebani tuntutan kerja yang tidak rasional.

Pengalaman perang batin, time management dan enlightment yang saya dapat sangat mungkin diterapkan kepada mahasiswa-mahasiswa dan sistem akademik di Indonesia, terutama bagi mahasiswa master dan Ph.D. Ketika mahasiswa sudah mengajukan proposal penelitian dan mempunyai dosen pembimbing, itulah saat bagi mahasiswa untuk membuat time schedule dan time line selama satu semester; kapan harus menyelesaikan per sub heading dalam proposal, kapan harus ujian proposal, kapan harus turun lapangan penelitian, kapan harus menyetorkan chapter demi chapter, dan seterusnya. Tiap mahasiswa pasti punya tone kerja tersendiri dan bisa disesuaikan dengan irama kesibukan sang dosen.

Dengan cara demikian, saya pikir suasana akademik bisa lebih hidup, mahasiswa bertanggung jawab secara pribadi sekaligus kepada dosennya. Di sisi lain sang dosen memiliki tanggung jawab moral untuk mengontrol hasil kerja sang mahasiswa berdasarkan kesesuaian waktu yagng sudah disepakati. Bagi mahasiwa, sistem ini adalah sebuah pencapaian dua hal sekaligus; keberhasilan menyelesaikan tesis dan keberhasilan pula mengontrol dan mengevaluasi kekurangan diri.