Gadis kecilku… Sarah


Anakku Sarah (8 tahun), sejak beberapa tahun ini menderita sesak nafas. Beberapa dokter berbeda pendapat tentang hal ini, ada yang menyatakan penyakit paru-paru, lalu kemudian pneumonia dan sebagian bilang asthma. Nebulizer yang disarankan dan tersedia di rumah sering kali tidak mampu mengatasi sesak nafasnya, begitu juga bermacam obat jalan dari dokter. Trigger utamanya adalah kecapekan dan makanan, dua faktor ini berulangkali mengharuskannya dirawat di RS sewaktu di Indonesia. Karena itulah kami ekstra ketat menjaga kondisi kesehatannya. Mungkin orang lain berfikir kami terlalu membatasi perkembangannya. Kenyataannya Sarah harus dijaga dari beberapa jenis makanan, debu, angin malam, cuaca dingin dan kecapekan. Penyakitnya memang terbilang kronis.

Gadisku yang manis, akan kehilangan keceriaan manakala sakit, dia tampak kuyu, membiru dan kelihatan lelah. Nafasnya tersengal, hingga cerung di lehernya tampak sangat dalam, perutnya sakit karena tulang rusuknya terlampau menekan, bahkan matanya terbelalak (mendelik kata orang Jawa), saat kritis tidak bisa bernafas secara sempurna, diapun menangis  “Ibu, Sarah ga bisa nafas, perut kram” dan kala itu tanpa fikir panjang saya selalu melarikannya ke RS, jalan keluar satu-satunya yang ter-aman dan terbaik baginya, apalagi saya seorang diri merawat dua anak, suamiku saat itu sudah setahun berada di Australia. Ketika ujian itu datang meluncurlah ribuan doa, berharap atas kesembuhannya, akan terapi terbaik dari profesional, juga agar bisa merawatnya berdua dengan suami di Australia. Mungkin benar, doa mustajab adalah rintihan dan isak tangis sepenuh hati, dan sakitnya Sarah menjadi kekuatan doa terbesar bagiku.

Akhirnya doa itupun terkabul, saya dinyatakan lolos seleksi beasiswa Dikti 2009. Sungguh anugerah terbesar, manakala saya bisa diterima di University of Wollongong, di Jurusan yang sama dengan suami, School of Mechanical, Material and Mechatronic. Namun kebahagiaanku ditemani sederet kekhawatiran…tak lain karena kondisi kesehatan Sarah. Apalagi sepengetahuanku cuaca di Australia demikian ekstrim. Bismillah.. cobaan terberatpun akan ringan terlampaui jika dijalani bersama suami, doa-ku dalam hati.

Perbedaan musim

Empat musim di Australia, sejatinya hanya dua yang paling saya takuti, Spring manakala pepohonan bersemi dan menebarkan pollen, seperti debu ia akan sangat mengganggu pernafasan, juga Winter yang dinginnya sangat mengganggu daya-tahan tubuh. Perbedaan musim inilah yang akhirnya menjadi konsentrasi utama, terlebih bagaimana saya harus menyiapkan segala sesuatu guna mendukung kondisi anak-anak agar tetap prima dan sukses ber-adaptasi nantinya. Nebulizer, disposable dust masks, berbagai obat resep dokter, baju tebal, minyak angin, dan sederet perlengkapan lain saya tulis rapi di daftar persiapan. Daftar ini sempat beredar, dipinjam beberapa teman guna cross-check barang mereka . Mengingat keberangkatanku di bulan Agustus, saya dan anak-anak berangkat berkostum jaket tebal (meski Jakarta saat itu panas bukan kepalang..*smile).

Bulan pertama kami lalui dengan mulus, Sarah sengaja tidak kami bawa kemana-mana, dia bermain game dan belajar di kamar yang hangat. Bersyukur kami tinggal di Graduate House akomodasi milik UOW dimana tagihan listrik include dalam pembayaran bulanan. Sehingga kami bisa menyalakan heater berlama-lama. Tatkala dingin berlalu, dan cuaca mulai hangat, barulah saya ajak Sarah jalan-jalan mengenal Wollongong dan mulai bersekolah.

Pengalaman Opname di Australia

Pancaroba yang demikian drastis nyatanya tetap mengganggu kesehatan Sarah. Memasuki bulan Februari, sepulang sekolah Sarah terserang  flu hebat, malam harinya muntah dan batuk, puncaknya dini hari jam 3 mulai tersengal-sengal kesulitan bernafas. Nebulizer tak mampu mengatasi dan melonggarkan pernafasannya. Saat kritis pertolongan pertama untuk Sarah tetaplah membawanya ke RS. Untunglah Supervisor berbaik hati menghentikan sementara Laboratory work saya. Pagi setelah mengantar si kecil Fathiya ke Preschool, saya ke RS untuk berganti shift jaga. Tiga hari opname membuat kami jadi mengerti cara kerja pengobatan di Australia. Sangat hati-hati dan tertib. Tentang hal ini akan saya ceritakan di tulisan saya berikut    “Sekolah di rumah sakit”

Akhirnya dokter menyatakan penyakit Sarah adalah Asthma. Mereka memberi obat khusus yang disiapkan apabila kambuh, memberi booklet Asthma Management Plan(AMP) dengan catatan data pengobatan, termasuk jadual kontrolnya. AMP bisa di-akses dan di-download di link berikut :

http://www.nationalasthma.org.au/handbook

Finally, kami bersyukur dan bernafas lega… Namun sesaat kemudian kami terkejut akan tagihan sebesar 3500 AUD. Semula kami fikir segalanya akan ter-cover  asuransi. Ternyata pihak asuransi berpendapat bahwa opname Sarah karena penyakit bawaan dan belum setahun tinggal di Australia. Beruntungnya dokter yang merawat Sarah berpendapat bahwa asthma bisa di-trigger oleh bermacam sebab sehingga sulit digolongkan sebagai penyakit dan berpendapat asuransi harus meng-covernya. Maka mulailah kami berdiskusi dengan perwakilan asuransi di Uni, menghubungi SEDLO (Student Equity and Diversity Liaison Officer), dan meminta surat keterangan dari dokter. Usaha-usaha ini berhasil mengubah keputusan pihak asuransi. Alhamdulillah.. 90% biaya opname akhirnya di-cover.

Semakin sehat ..

Selanjutnya Sarah berada dibawah pengawasan ketat dokter. Sekolah meminta dokter untuk mengisi form, memberi catatan penanganan, list allergen, serta menyediakan obat di sekolah. Pihak Rumah Sakit-pun mengirim undangan seminar, conference dan terapi-terapi pengobatan.

Entah karena obatnya yang mujarab, atau karena daya tahan Sarah makin membaik, mungkin juga karena udara Australia yang segar, bersih tidak terpolusi…kini Sarah jarang sekali terserang asthma, kondisi kesehatannya jauuuh lebih bagus. Sesekali dia sakit, namun tidak lagi separah seperti dulu. Sarah bisa bebas merasakan indahnya pasir pantai, berendam berenang berlama-lama, berlarian mengejar anginnya yang kencang, bahkan diapun tetap fit sepulang travelling.  Syukurlah.. kini gadis kecilku semakin sehat …