Mimpi jadi student PhD
Kuliah S3 ? Ahhh….mana mungkin…!!? Kira-kira itulah yang terlintas dibenak pikiran saya ketika saya kuliah S1 di Australia 15 tahun yang lalu. Ketika itu saya banyak memiliki teman yang sedang melanjutkan studi S3 dan memandang mereka sebagai manusia-manusia yang hebat. Dengan beban kuliah dan pengalaman culture shock yang cukup berat yang saya alami saat itu, kayaknya untuk bisa lanjut kuliah sampai S3 di Australia (seperti teman-teman tersebut) adalah mimpi. Kuliah S2 sudah cukup bagi saya. Saya membayangkan kuliah S3 di Australia sangat berat dan mengerikan. Pokoknya gak gue banget deh….!!
Setelah lulus S1 di Sydney, saya lanjut S2 di Inggris. Di sini lah saya mulai menikmati dunia akademik. Sebagai postgraduate student, kami dianggap sebagai mature student dan dididik untuk belajar mandiri. Dengan bantuan mbak Google (yang ketika itu baru lahir), library dan kiriman data dari Indonesia, thesis saya berjalan dengan lancar. Plus, supervisor yang super baik hati yang berfungsi sebagai pembimbing akademik plus proof reader. Bagi saya beliau adalah my best English teacher. Pandangan saya tentang kuliah S3 yang mulanya mengerikan menjadi menyenangkan. Saya ingin kuliah lagi di luar negeri supaya dapat menimba ilmu baru dan menulis karya ilmiah.
Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Everybody must to have dreams. Alhamdulillah dengan bekal good management dan good luck, sekarang saya bisa duduk belajar sebagai student PhD. Menurut saya, untuk bisa menjadi student PhD membutuhkan persiapan khusus dan pengorbanan. Tentu saja semua orang punya kesempatan untuk kuliah S3 di luar negeri. Pintar bukan syarat utama tapi yang penting (selain faktor luck dapat beasiswa) adalah memiliki passion dan kesungguhan terhadap ilmu yang akan digeluti.
Sekedar berbagi tips dengan teman-teman yang memiliki mimpi yang serupa dengan saya, good management dapat dimulai dari sekarang, seperti :
1. Aturlah waktu antara waktu bekerja dan persiapan sekolah lagi. Mulailah meraih achievement sehingga CV kita penuh dengan prestasi. Mintalah izin atau diskusi dari jauh-jauh hari dengan atasan kalau kita berencana untuk kuliah lagi. Dan jangan lupa atur strategi dengan keluarga dengan skenario what if I go for PhD. Biasanya kalau kita lupa dengan step ini, rencana kuliah S3-nya bisa ruwet di tengah jalan.
2. Browsing calon supervisor. Kalau kamu sudah menemukan ilmu yang akan didalami, carilah beberapa ahli di bidangnya. Biasanya mereka adalah pengajar dan peneliti di universitas. Carilah lebih dari 1 orang dari universitas berbeda. Hubungi mereka semua dan pilihlah kira-kira yang mana yang memiliki ide yang sama. Supervisor is the most influencing person in our PhD life…find the best one who will never turn your dream into a nightmare….!!
3. Membangun hubungan baik dengan supervisor. Perkenalan saya dengan supervisor terjadi sekitar 3 tahun sebelum memulai kuliah S3. Meskipun saya belum punya beasiswa, saya sudah nekat bercuap-cuap mau kuliah dan berdiskusi mengenai topik yang akan saya lakukan. Karena ‘start awal’ ini, saya sangat confident ketika di-interview untuk beasiswa dan langsung terjun riset hanya beberapa minggu setelah kedatangan saya di Australia.
4. Menjalin networking. Networking bermanfaat ketika kita akan mengambil data untuk riset S3. Banyak hal-hal non teknis yang akan kita hadapi ketika pengambilan data….so kita harus siap-siap menghadapi semua kendala tersebut. Contohnya, apabila riset kita akan melibatkan instansi di Indonesia, sebelum berangkat sekolah, kita permisi dulu atau at least sounding bahwa kita akan membutuhkan kerjasama mereka untuk pengambilan data.
Dari pengalaman saya, good management akan menghasilkan good luck. Dan ketika menjalani dunia PhD student, saya lebih siap kuliah S3 dengan kondisi membawa 2 anak dan suami. Saya suka senyum-senyum sendiri kalau baca cerita PhD comics karena banyak yang mirip dengan kejadian yang dialami oleh saya atau teman-teman. Pokoknya suka dan duka bercampur aduk. Tapi jangan takut atau pesimis untuk kuliah S3 di luar negeri apalagi kalau itu adalah mimpi kita. So….hayo teman-teman…raihlah mimpimu setinggi-tingginya….


Totally agree! Selamat untuk karir Anda selanjutnya
Mbak asik juga baca ceritanya , cerita mbak memotivasi saya , sy sangat bermimpi untuk ambil Phd , tp kayaknya hanya mimpi karena keterbatasan bahasa inggeris kedua kayaknya kesempatan tuk dapat beasiswa kecil kemungkinan karena faktor umur sudah kepala 4. Mungkin ada saran atau motivasinya mbak , sy engak pede kl mau ambil phd diluar , tp semangat saya kuliah diluar negeri sangat membara ,
Mbak Zahara….thanks atas comment-nya. Saya senang sekali kalau tulisan saya bisa memberikan motivasi mbak utk sekolah lagi.
Ingat lho mbak….umur BUKAN halangan utk tetap melanjutkan study. Yang terpenting adalah kesiapan kita untuk ‘back to school’. Kalau masalah bahasa, yah…itu merupakan challange yg bisa kita lalui secara bertahap.
Saran saya, carilah bidang study yg benar2 kita cintai & pembimbing yg mengerti dgn kondisi kita sehingga kita enjoy kita sekolah nanti.
Doing PhD is not about to change the world, but to explore our mind & passion….
Assalamualaikum mbak frida,, Saya tertarik dengn crita anda di atas,,,
Saya sebenarnya juga pengen banget kuliah S3 bidang Sistem Informasi mngkn bisa tukar pikiran apa aja yang harus d persiapin??? karna trus terang TOEFL saya mepet (450) bgt hiks hiks hiks… apa harus sudah pnya proposal disertasi kemudian cara untuk dapatin info beasiswa gmna ya??? trima kash banyak wassalamualaikum…
Hi Mas Irfan,
Sekedar sharing…ketika saya mulai memantapkan untuk sekolah lagi, pertama adalah saya cari bidang yg gak terlalu susah (sesuai kemampuan) & benar2 saya minati. Awal tahapannya kita mulai dari membuat proposal atau minimal rencana riset kita. Dosen2 biasanya mengharapkan calon student-nya ‘know what we are doing’.
Utk beasiswa, kuncinya kita mesti rajin2 browsing. Bisa lewat internet atau datang ke pameran pendidikan atau kedubes. Banyak peluang beasiswa PhD, contohnya: Ausaid ADS (australia), Fulbright (amerika), belanda, new zealand, jepang, DAAD (jerman) dll. Kalau utk dosen, Kemendiknas (dikti) jg memberikan beasiswa dlm & luar negeri. Bisa jg kita browsing (internet) langsung ke universitasnya karena biasanya mereka membutuhkan PhD student kalau punya project.
Kemampuam bahasa bisa terus meningkat dengan latihan yg rutin. Jadinya, toefl 450 bukanlah hasil akhir dari kemampuan inggris kita, krn saya yakin toefl anda akan terus naik ketika kita sudah familiar dgn tipe test.
Terus semangat ya Mas….insya Allah diberikan kelancaran utk bisa lanjut study S3
..