ANTARA STUDI DAN KELUARGA


Sudah menjadi tekadku untuk mengajak serta anak-anakku saat aku putuskan untuk melanjutkan studi S3 di The University of Melbourne. Dengan dukungan suami dari jauh, aku merasa optimis bisa melakoni peran ganda, sebagai ibu dan mahasiswa. Ganta, anakku yang pertama, masuk ke Brunswick Secondary College, dan Adzra, 4 tahun, kutitipkan di Bindi Child Care. Secara teori, aku harusnya bisa konsentrasi dengan studiku pada saat jam-jam anak-anak berada di sekolah. Biasanya aku pergi ke kampus, membaca dan menulis di office space yang disediakan, atau bila bosan, aku ke perpustakaan yang lebih nyaman suasananya. Kadang-kadang aku memutuskan bekerja di rumah saja, sambil memasak dan membereskan laundry. Maunya hemat waktu dan uang. Kalau aku harus ke kampus tiap hari, biaya transportasi akan membengkak juga.

Namun dalam prakteknya, mencari pola manajemen waktu yang tepat ternyata bukan perkara yang gampang. Acapkali aku merasa off-track. Waktu efektif untuk kerja praktis berkurang banyak. Kalau saat 3 bulan pertama, karena masih sendirian, aku bisa ngendon di kampus mulai pagi sampai jam 7-8 malam, sekarang aku sudah harus menjemput Adzra di child care sekitar jam 4 sore. Aku belum tega menjemputnya pada batas waktu jam 6 sore. Niat menambah jam kerja lagi di malam hari juga beberapa kali terlewat karena kebablasan tidur saking capainya. Muncul rasa bersalah pada diri sendiri karena aku belum total dan profesional mempersiapkan proposalku. Aku tidak lagi bisa leluasa ikut seminar atau workshop yang diadakan setelah pukul 4 sore. Pikirku, sudah dapat beasiswa penuh dari Unimelb, kok komitmennya belum maksimal. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah teman-teman yang lain juga mengalami hal yang sama?

Ketika aku membaca salah satu artikel di buletin Plane Tree dari the Graduate Student Association Unimelb, akhirnya aku merasa di ‘jalan yang benar.’  Judulnya “Multi-crashing?: The Graduate Student’s Guide to Balancing Work and Study.” Ditulis oleh Clare Rhoden, lulusan PhD dari the School of Culture and Communication. Dalam biodata singkatnya, alih-alih dia menyebutkan profesinya setelah lulus. Di situ bahkan ditulis ‘juggling part-time work and part-time writing with full time family commitments and a new puppy.’  Setelah selesai membaca, aku merasa dapat pencerahan. Rasa bersalahku berkurang, karena ternyata aku tidak sendiri.

Dalam artikelnya, disebutkan bahwa studi lanjut ke jenjang S2/S3 memang menantang dalam banyak hal. Semua mahasiswa di tingkat ini sudah punya tujuan, namun juga punya kehidupan lain, yang kadang membutuhkan banyak waktu. Sebagian besar mahasiswa pascasarjana mengalami kendala antara kerja, studi, dan keluarga. Kuncinya adalah mengelola komitmen terhadap semua komitmen dengan sebaik-baiknya. Ini ringkasan tentang tips yang diberikan, dan aku poles di sana-sini sesuai kondisi yang kuhadapi.

1. Tentukan prioritas Anda

Studi mungkin tidak selalu bisa menjadi prioritas utama di setiap waktu. Kadang anggota keluarga sakit, atau masalah pekerjaan bisa mengambil alih prioritas. MASALAH baru akan timbul bila urusan di luar studi ini SELALU menjadi prioritas utama, sehingga mengganggu waktu untuk studi. Solusinya: ubahlah (turunkan) standar prioritas anda.

2. Buatlah jadwal yang realistis

Carilah waktu yang paling tepat untuk urusan studi. Quality time lebih penting daripada quantity. Meski hanya 2-3 kali seminggu, tapi lakukan pada saat anda bisa mencapai peak performance. Dan lakukan ini secara rutin. Nothing will change if you don’t take charge of your time. (Tips yang ini serasa maknyus. Waktu yang kusediakan 4-5 jam selama 5 hari/minggu akan cukup bila dimanfaatkan sebaik-baiknya. Saat aku sendirian di rumah atau di kampus dan anak-anak sedang sekolah. Tidak perlu khawatir dengan cucian yang menumpuk atau ruang tamu yang agak berantakan. Nanti bisa dikerjakan saat anak-anak sudah di rumah).

3. Belajarlah seolah-olah ini adalah pekerjaan Anda

Sekolah bukanlah pekerjaan dalam hidup Anda. Itu hanya batu loncatan yang harus dilalui. Jadi, anggaplah ini sebagai pengalaman kerja untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik di masa datang. Saat Anda sedang ‘belajar,’ lakukan tugas-tugas yang kecil-kecil dan doable agar timbul perasaan ‘sudah menghasilkan sesuatu.’ Sense of accomplishment, kira-kira begitu. Jauhilah semua gangguan, misalnya mengintip email, SMS, atau status update teman-teman FB. Tidak ada ruginya ‘putus hubungan dengan dunia luar’ selama 1-2 jam. Anda akan bisa merasakan progress yang signifikan dalam 1 jam. Ingatlah: tidak ada yang tidak penting dalam melakukan kegiatan positif, meski itu hanya sekedar membuat oret-oretan to-do list. (Kupingku serasa dislenthik nih. Sudah tahu waktunya sedikit, aku masih suka sebentar-sebentar cek email dan FB.  Siapa tahu ada yang njawil. Sok penting kali!)

4. Beri batas waktu

Anda akan bisa bekerja lebih baik bila waktu dibatasi. Waktu yang banyak malah bisa menimbulkan progress yang lamban. Sekedar analogi: bila mau ada tamu 1 jam lagi, maka persiapannya ya 1 jam itu. Bila waktunya 1 hari, maka persiapan ya akan 1 hari penuh. Hasilnya bisa saja sama saja. (Yang ini ada benarnya juga. Saat masih sendirian di sini, aku bisa habiskan 4 hari penuh, sehari-semalam untuk baca dan nulis draft proposal. Sekarang dengan waktu yang jauh lebih sempit, masih bisa juga menghasilkan sedikit tulisan. Blog pribadiku malah lebih ‘berisi’ setelah ada anak-anak di sini).

5. Sesuaikan harapan Anda (dalam bahasa saya: turunkan standar kepuasan)

Mungkin saat kuliah S1, Anda lulus dengan predikat terbaik atau cum laude. Bukannya tidak mungkin mencapai prestasi yang sama saat studi S2/S3, namun kondisi yang juga berubah membutuhkan penyesuaian dalam pengharapan yang lebih realistis. Ada keluarga yang perlu diurus, ada pekerjaan yang menanti. Studi lanjut hakikatnya adalah mengembangkan intelektualitas, meningkatkan kualifikasi, bukan sekedar memperoleh gelar atau predikat terbaik. (Setuju 100%. Tidak perlu terobsesi dengan ‘being the best.’ Being with the kids while studying overseas is one of the best things you can have now)

6. Lakukan apa yang Anda lakukan

Sebisa mungkin, pisahkan antara waktu kerja dan waktu belajar. Saat belajar, belajarlah. Saat bersama keluarga atau bekerja, optimalkan perhatian anda bagi mereka. Mungkin anda merasa ‘bagus’ dalam hal multi-tasking. Namun hampir tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan dengan optimal hanya dengan ‘separuh otak.’ (Ok deh, akan kucoba. Selama ini agak terlalu bangga dengan my multi-tasking capacity. Ternyata nggak gitu-gitu amat manfaatnya.)

7. Hati-hatilah dengan si kembar ini: procrastination and perfectionism. Jangan biasakan menunda pekerjaan, namun jangan memaksa diri mencapai hasil yang sempurna. Gelar tidak diraih hanya karena Anda pintar, tapi karena anda juga produktif. Terapkan ilmu pragmatisme: do what you can in the time available-make the best you can in the time available. And do it NOW!

Artikel ini membuatku merasa lebih nyaman dengan segala keterbatasan yang kuhadapi. Daripada mengeluh tentang sedikitnya waktu, lebih baik mengoptimalkan waktu yang sedikit itu.  There’s always time for everything. But you can’t use your time to do many things at one time. SO, MAKE THE BEST OF YOUR TIME.