Menikah, Sekolah dan Hubungan Jarak Jauh
Tulisan ini terinspirasi dari seorang teman yang memutuskan untuk tidak mengambil beasiswanya karena akan menikah. Pertimbangannya, hubungan jarak jauh tidak pernah baik untuk pernikahan. Teman saya ini juga merasa sudah lebih dari cukup umur untuk menikah, dan khawatir kalau menunda jodoh berakibat buruk untuk masa depan.
Itu pilihan teman saya. Saya hanya menyayangkan, teman saya ini sangat pintar. Lagipula, kesempatan beasiswa tidak selalu datang dua kali. Apa iya tidak ada pilihan yang lebih kompromistis? Tapi ya, tiap orang pasti punya pertimbangan sendiri dalam memutuskan sesuatu. Mungkin teman saya tidak akan sebahagia sekarang, kalau saja dia menerima tawaran beasiswa saat itu. Atau mungkin, dia akan lebih bahagia ya?
Saya sendiri membuat pilihan lain.
Saya sudah pacaran kira-kira setahun, dengan teman sekantor, ketika menerima kabar bahwa saya mendapat beasiswa. Sebenarnya, waktu satu tahun relatif singkat ya. Tapi percayalah, kalau sedang jatuh cinta, meninggalkan pacar tercinta rasanya sedih sekali. Apalagi selang beberapa waktu sebelum surat penawaran beasiswa saya terima, saya dan pacar sudah berencana akan menikah.
Mulai berkecamuk di kepala saya. Apakah menikah dulu? Kalau menikah, suami saya sudah jelas tidak bisa ikut. Ahh, sama saja… hubungan jarak jauh juga. Apakah hubungan jarak jauh akan berhasil? Saya sendiri, karena melihat pengalaman keluarga, menganggap bahwa pernikahan jarak jauh tidak akan pernah berhasil.
Uhm… kalau begitu, menikah nanti saja setelah selesai sekolah. Toh, dua tahun tidak lama. Saya pun berpikir, mungkin belum saatnya menikah. Mungkin jarak jauh akan menguji kualitas hubungan ini sebelum menuju ke tahap yang lebih serius. Walaupun ternyata yang ribet bukan saya, melainkan keluarga. Pihak keluarga saya berkali-kali bertanya kapan pacar akan melamar. Menurut ibu saya, melamar itu bukti keseriusan laki-laki bahwa akan menunggu anaknya. Bila tidak ‘diikat’ nanti gampang ‘kemana-mana’. Hahaha.. Apalagi adik perempuan saya juga akan menikah dalam waktu dekat. Situasi lainnya, ibu mertua saya sedang sakit dan ingin juga melihat anak laki-lakinya menikah.
Masalahnya, meski memang berniat akan menikah, saya tidak mau dilamar dulu!! Apapun bisa terjadi dalam dua tahun dan menerima lamaran berarti sudah menjanjikan sesuatu. Pikir saya, kalau jodoh ga kemana. Untungnya, pacar saya bersedia berkompromi. Dengan resiko dianggap ‘tidak serius’ oleh keluarga saya, dia mendorong saya untuk tetap kuliah. Walaupun alasan sebenarnya adalah uang kami belum cukup :p.
Saya pun berangkat sekolah dengan status lajang. Saya bersyukur memutuskan pilihan ini. Rasanya lebih lega karena tidak terbebani dengan pikiran “ada suami di rumah”. Apalagi melihat teman-teman yang statusnya MBA alias Married By ADS dan harus meninggalkan suami. Tersiksa sekali kelihatannya.
Berbeda dengan pengalaman teman-teman yang kebanyakan putus, hubungan jarak jauh ini ternyata malah membuat saya maupun pacar semakin mantap ingin menikah. Tidak perlu merinci alasannya karena hanya akan membuat pembaca mual-mual
. Intinya, saya berpikir jarak jauh ini bisa jadi alat juga untuk mengukur keyakinan kita pada pasangan. Apalagi jarak jauh memberikan pengalaman yang berbeda. Bisa jadi, emosi gampang tersulut sekedar karena sinyal Lebara atau Skype sedang tidak reliable. Atau pengertian tidak bisa dibangun karena sedang stress mengerjakan tugas. Bisa jadi, perbedaan waktu tiga/empat jam membuat komunikasi tidak lancar karena yang satu masih ingin ngobrol dan yang satu sudah ingin istirahat. Bisa jadi ditengah jalan, tujuan hidup kita (atau dia) berubah dan merasa bahwa dia (atau kita) bukan lagi orang yang tepat. Bisa jadi, karena perbedaan lingkungan yang merubah pola pikir membuat kita tidak lagi merasa nyaman. Saya pikir, cinta itu perlu diuji. Tidak perlu buru-buru memutuskan pernikahan. Apalagi untuk ditukar dengan kesempatan kuliah lagi.
Setelah 1,5 tahun, saya akhirnya menikah. Terima kasih kepada reunion airfare ADS yang memberi kesempatan para lajang bisa pulang liburan gratis
. Kali ini saya tidak takut harus jauh-jauhan, toh pernah teruji. Meskipun memang ada perbedaan antara pacaran jarak jauh dan pernikahan jarak jauh, dua-duanya membutuhkan maintenance. Keeping the connection alive, that is. Sekarang saya percaya, “distance makes the heart grow fonder”. Kalau tidak, maka anggaplah mungkin belum jodoh

Yuppp.. keren nih Ichi..
semoga waktu yg tinggal bbrp bulan lagi bisa dilalui dengan baik..
cepet selesai dan cepat berkumpul bersama lagi
thanks mamafh. motivasi untuk nulis lagi nih, pertamax soalnya
Yup. Setuju. Saya juga pernah hubungan jarak jauh dengan pacar selama 3 tahun. Saya kerja di Bali dan pacar kerja di Singapur. Terasa banget dimana rasa pengertian, saling percaya, dan emosi yang paling sering terjadi karena koneksi skype atau ym yang amat sangat tidak bersahabat. hehehe… Sekarang pacar sudah balik lagi kerja di Indonesia. Sampai sekarang kami masih jadian dan masa2 jarak jauh itu jadi masa yang selalu kami ingat
Suka banget tulisan ini, tajam, to the point, dan sesuai dengan spirit Neng Koala! Hope this inspires others!
Hi Nia, ayoo ikutan nulis juga. Pasti suka statemennya karena bernasib sama kan?
Hahahahaha…yah gitu deh, serba gak jelas hahaha, iya mb ditunggu aja tulisanku muncul di Neng Koala, masih berkutat sm assigments neh, maklum semester pertama hehehe…di tunggu inspirasi2 selanjutnya mb ^_^v
Hmmm..inspiratif mb, salam kenal saya Nia, skrg kuliah di Australian Maritim College, Univ Of Tasmania (jauhhhhh yahhh hehehehehe), sy suka statement terakhirnya “Distance makes the heart grow fonder”…
Hi Sylvie. Iya nih, kalo sudah menikah lebih banyak pertimbangan. Mudah2an ketemu jalan yg terbaik ya
Met kenal, mba. Saya dapat link blog ini dr teman saya.
)
Saya setuju dg Mba, bhw 1) kesempatan sekolah (dibiayai orang lain) tidak datang 2x dan 2) hubungan jarak jauh akan lebih memupuk&mematangkan hubungan.
Bbrp thn lalu jg sy 1 th pacaran jarak jauh dg suami saya skrg (wkt itu sy di Jkt, suami di WA), dan meski gak gampang, tapi skrg jd semacam achievement yang indah untuk dikenang..
Thn lalu sy menikah hanya jarak 1bulan sebelum suami saya berangkat S2 ke US. Meski udah diwanti2 sama Ibu saya akan risikonya, kami ngotot nikah stlh pacaran hmpir 5 th, dg alasan nanti kl sy jg nyusul dp beasiswa, biaya apartemennya bisa lbh ngirit (kalo sekota). Keberhasilan suami sy mendapatkan beasiswa tyt jadi motivasi utama saya (motivasi pengembangan diri & karir tyt jadi no 2 stlh menikah yaa) mengejar beasiswa k negara yg sama. Padahal dulunya suami saya ikut2an saya daftar, tp saya gak lolos di 1st try itu.
Sekarang begitu beasiswa sudah di tangan, saya malah dilema antara memilih uni yg kotanya dekat dg suami atau uni yg agak jauh tapi prestisius. Saking banyaknya pertimbangan (sampai ke kemungkinan susah/tidaknya lulus dari uni yg ivy league), saya jadi sering pusing2, mungkin stres, hehe..
Makanya saya buka en baca tulisan2 di blog ini untuk refreshing dan mencari inspirasi (meskipun negara tujuan sy bukan Australia)..
Hello Imburhan,
Selamat atas tulisan yang bagus ini.
Saya sendiri juga punya pengalaman yang sama. Saya kuliah S2 di ANU Canberra tahun 98, anak semata wayang saya yang berumur 2.5 tahun berada di Jakarta, dan suami saya di proyeknya di Lampung. Alhamdulillah, dengan komitmen yang kuat, kami dapat melalui masa berpisah dengan baik.
Sekarang saya kuliah lagi S3 di ANU dengan membawa anak saya yang saat ini berusia 16 tahun. InshaAllah saya akan selesai S3 dan si bujang selesai College di akhir tahun 2013.
Jika kita tempatkan pada perspektif jangka panjang, pada akhirnya semua akan berjalan lancar.
Sekali lagi, selamat atas pilihan yang di ambil. Sukses untuk Anda!
Cheers,
Risa