There is a miracle in hope! Part 1
Sekolah ke Australia?..
Sewaktu duduk dibangku SMA kelas 3 pada tahun 1998, seperti biasa, sekolahku yang merupakan salah satu sekolah unggulan di jakarta mempunyai program “minggu promosi” dimana para alumni akan datang dan mempromosikan kampusnya baik yang kuliah di dalam maupun di luar negeri. Kebanyakan dari mereka datang dari universitas-universitas negeri di seluruh Indonesia. Ada salah satu tim yang berpromosi tentang menariknya berkuliah di luar negeri yaitu Australia. Mereka membagikan setumpuk brosur dan cerita tentang susah senangnya berkuliah di belahan bumi lain dengan gaya dan cara mempresentasikan yang sangat menggugah angan. That’s so fascinating for me.
Hingga ketika pulang ke rumah, saya pun mengutarakan maksud untuk bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri ke Papa. Meskipun kami dari keluarga sederhana, namun untuk urusan pendidikan beliau selalu memberikan yang terbaik. Saat itu beliau menjawab “Kalau Papa kirim kamu belajar ke Australia, konsekuensinya nanti adik-adikmu tidak kuliah”. Buyar sudah angan anak usia 16 tahun itu. Akhirnya dengan berat hati saya melepas angan untuk bisa bersekolah di negeri Kangguru. Saya menatap lekat brosur-brosur itu dan melayangkan harapan: “Suatu saat saya yakin, bagaimanapun caranya, saya akan bisa belajar di sana”.
…. I do believe in miracle. It does exist,
and there are three words for miracle to happen:
hope..hope.. and hope….
Waktu bergulir, hari berganti hari dan tahun, aku menyelesaikan program sarjanaku disalah satu universitas terbaik di Indonesia dengan status cum laude, melanjutkan peran sebagai asisten dosen dalam penelitian, dan akhirnya bekerja di sektor pemerintahan. Sampai tiba saat jenuh dimana saya merasa dunia saya terhenti. Mengapa? rutinitas kerja yang hanya itu-itu, tidak ada perubahan, kasus dan bidang pekerjaan yang sama yang dihadapi di setiap hari-hari yang ada, sistem hierarki yang terlalu kaku, politik kantor, dan atasan yang terlalu old school yang mengadopsi gaya kepemimpinan klasik — dimana bawahan dianggap seperti tidak mempunyai karsa, karya, dan rasa— bagi saya menjadikan kemampuan berpikir menjadi terhibernasi secara sistemik. Pada titik kulminasi, saya ingin sebuah perubahan: baik bagi saya maupun bagi organisasi tempat saya berkarya. Untuk itu: “saatnya saya bertindak, mengepakkan sayap terbang tinggi melihat dunia dari atas sana”.
Gayung pun bersambut dengan adanya tawaran scholarship G to G dari pemerintah Australia melalui Instansi tempat saya bekerja. Beasiswa Australian Development Scholarship. Cukup panjang perjuangan saya untuk bisa diterima sebagai awardee. Empat tahun berturut-turut saya mencoba program beasiswa ini. Sejak tahun 2006, dan baru dinyatakan lulus pada saat saya mencoba di tahun 2009. Meskipun selalu lolos tes seleksi administratif, saya selalu gagal di tes interview.
Di usaha saya yang pertama, saya gagal karena faktor ketidaksiapan dan grogi pada saat interview Joint Selection Team (JST) yang berisi tim profesor gabungan dari profesor dari Indonesia dan dari Australia. Berlanjut diusaha kedua (2007), saat dengan bodohnya saya salah melihat tanggal tes interview JST . Ingat betul saya saat itu, hari selasa, saya datang ke kantor dengan membawa beberapa buku pinjaman dari perpustakaan untuk bahan memperluas wawasan saat wawancara. Sejak pagi saya mengikuti meeting dengan men-silent Hp saya sampai tiba saat jam makan siang, dimana saat saya mengecek Hp,ada sms yg berbunyi “kamu dimana? ga ikutan JST? namamu dah disebut dari jam 8 pagi tadi”. What!!!??? saya cek surat undangan JST dan terkejut bahwa inteview saya adalah hari ini bukan besok hari Rabu. Saya cek reminder di Hp saya: Rabu, saya cek kembali undangan: Selasa. Oh My God! saya salah lihat tanggal. Tergopoh-gopoh saya meminta teman saya menyetir dengan sangat ngebut mengantar saya ke hotel JW Marriot untuk mengikuti tes JST yang sudah dipastikan sangat-sangat terlambat. Hampir jam 2 siang baru saya sampai. Saya sadar itu pasti bisa mengurangi penilaian para profesor dalam JST. Ditambah dengan kegugupan karena kaget dan bersalah, saya tidak berharap banyak untuk tes kali kedua ini. hasilnya: Gagal lagi!
. Masih belum menyerah saya mengikuti tes untuk ketiga kalinya (2008), hasil IELTS tidak mengecewakan semua nilai sudah diatas 6 dan sayapun sudah menyiapkan slide presentasi, tapi entah mengapa tetap saja saya gagal di interview JST lagi.
Wohooo! I’m so persistent!! I don’t wanna lose again! I believe in hope! I do! di tahun keempat (2009) saya coba lagi, kali ini strategi tempur diperbaiki untuk menaklukan JST: update dengan isu-isu aktual yang sedang happening dalam dan luar negeri, baca tambahan bacaan tentang keilmuan yang akan saya ambil, dan mencoba meng-highlight achievement yang udah pernah saya raih selama ini sebagai bahan untuk “jualan” ke tim JST. Akhirnya: saya pun bisa menaklukan para profesor di JST! Saya dinyatakan lulus di awal Februari 2010 dah karena nilai IELTS saya lumayan, saya hanya harus mengikuti EAP selama 8 minggu sebelum di berangkatkan di Januari 2011. Betapa bahagianya saya saat itu..sujud syukur kepada Allah SWT yang mengabulkan harapan saya. Perjuangan panjang berbuah hasil. Meskipun sudah banyak orang yang meledek saya sebagai “alumni gagal” tapi saya tidak menyerah. Karena ini kehidupan saya, impian saya, dan ledekan-ledekan itu tidak mampu sedikitpun menghancurkan impian dan harapan yang ada.
…. Do not ever give up hope! ‘coz there’s a miracle in hope! ~^o^~
Tulisan selanjutnya akan bersambung di :”There is a miracle in hope! part 2“.


Pingback: There is a miracle in hope! Part 2 « Neng Koala
Mantap! Yup, there is always a miracle in hope!